batik-pacitan

Batik Pacitan

Batik merupakan suatu karya seni dengan keragaman motif dan pewarnaannya yang khas, yang sampai saat ini masih banyak diminati oleh masyarakat. Untuk melukis batik menggunakan alat yang disebut canting Di Indonesia sendiri, banyak sekali pengerajin batik yang tersebar di berbagai wilayah, seperti di Solo, Pekalongan, Trusmi Cirebon, Madura, Lasem, Sukoharjo, Pacitan, dan masih banyak di

kayu-fosil-pacitan

Kerajinan Kayu Fosil Pacitan

Indonesia sangat kaya akan budaya. Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya berbagai macam suku bangsa yang secara otomatis membentuk adat-istiadat berbeda-beda juga. Dengan perbedaan ragam budaya tersebut membentuk setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas dan karakter. Ternyata ciri khas dan karakter tersebut tidak terlepas dari hasil bumi pada masing-masing tempat tinggal mereka. Peninggalan-peninggalan budaya

gerabah-pacitan

Gerabah Pacitan

Letaknya nun di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur, dihimpit panorama bergunung-gunung, di sanalah Kabupaten Pacitan. Wilayah paling ujung ini berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo di utara, Trenggalek di timur,samudra Hindia di selatan, dan Wonogiri Jawa Tengah di sebelah barat. Sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan kapur. Karena itu tanah di Pacitan kurang cocok untuk pertanian. Kondisi

tiwul-pacitan

Tiwul

Tiwul (atau thiwul) merupakan makanan khas kota Pacitan. Makanan yang terbuat dari ketela pohon ini dahulunya menjadi makanan pokok bagi penduduk Pacitan. Ketela pohon banyak ditemukan di Pacitan, sehingga banyak digunakan dan di olah. Mulai dari batang, daun sampai isinya bisa di manfaatkan semua. Pembuatan tiwul tidak begitu rumit. Cukup ketela di cuci bersih kemudian

kue-bagiak-banyuwangi

Kue Bagiak

Mungkin buat sebagian orang ketika mendengar kata bagiak yang pertama terlintas adalah sendal kayu yang ada di jepang atau juga yang biasa juga ada di jawa. Bagiak yang saya hadirkan ini merupakan salahsatu oleh-oleh khas Banyuwangi yang berbentuk kue kering yang berbahan dasar tepung sagu di campur dengan kelapa parut dan beberapa bumbu lainnya. Nama

rujak-soto-banyuwangi

Rujak Soto

Rujak Soto adalah masakan khas dari daerah Banyuwangi Jawa Timur Masakan ini merupakan paduan unik antara Rujak Cingur dengan Soto Babat. Bagi orang yang belum tau pasti akan terasa eneh ketika mendengar nama makanan ini karena ada dua nama makanan berbeda menjadi sebuah nama makanan baru. Kita akan dengan sangat mudah menemukan makanan ini di

akik-pacitan

Batu Akik Pacitan

Batu akik. Pacitan tempatnya. Desa Sukodono, Kec. Donorojo pusat pembuatannya. Pasar Kliwon yang buka se- tiap Kliwon, adalah bursa batu akik yang paling ramai dikunjungi para pecinta batu agate ini. Pengrajin batu akik Sukodono menikmati kejayaannya cukup panjang mulai tahun 1960-an sampai tahun 1990-an. Produk batunya terkenal indah, karena proses pembuatan dan bahan bakunya juga berkualitas tinggi.

upacara-larung-sesaji-blitar

Larung Sesaji

Upacara Tradisional Larung Sesaji di Pantai Tambakrejo dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam. Dalam tahun Jawa disebut sebagai Satu Suro. Acara Larung Sesaji di Pantai Tambakrejo penuh nuansa spiritual ini merupakan refleksi rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Pemurah, yang telah melimpahkan hasil bumi bagi masyarakat Blitar, khususnya masyarakat nelayan setempat.

upacara-petik-laut-banyuwangi

Petik Laut

Petik Laut merupakan salah satu tradisi warga Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki berlimpah yang selama ini menopang kehidupan mereka. Dengan rasa syukur ini diharapkan selama menjalani pekerjaan, mereka dijauhkan dari bahaya serta mendapatkan tangkapan ikan melimpah. Acara ini dilakukan di Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten

musik-panjak-hore-tuban

Panjak Hore

Panjak=niyaga (berarti pemukul gamelan). Namun pada “panjak hore”, gamelannya dengan mulut. Kalaupun ada instru­men, itu hanyalah terdiri atas sebuah gendang sebagai pengatur irama dan sebuah gong bumbung (=gong tiup) sebagai finalis. Selebihnya gamelan mulut yang menyuarakan kata-kata berirama : lelo-lale-lo-lalo …. dan seterusnya, diseling dengan bentuk parikan, dan di sa­na-sini senggakan “hore – hore –

Top